dari sebuah mimpi


sampai akhirnya ia bermimpi...

Kala itu ia termenung di bawah pohon nan rindang , melamunkan beberapa orang yang lewat di hadapannya dan ketika wajahnya terlihat sedih, bertekuk lesu dengan rasa badmood yang melanda sore itu, ada seorang laki laki yang bertanya padanya.
"kenapa ? Dari tadi cemberut saja, sendirian aja lagi !" menghampirinya dgan ragu.
Ia pun menolehkan kepalanya kearah laki laki itu dan setelah melihat "Oh ternyata dia" yah sekedar tau lalu mengemblikan tolehan itu.
"kenapa ?" ucap laki laki itu semakin penasaran.
"bete!" jawabnya.

"bagaimana ini ? Masih pantaskah aku bertemunya saat ini ? Tapi... " kata laki laki itu dalam hati dan kemudian duduk disampingnya. Lalu tak lama ia bercerita banyak dengan lelaki itu , begitu sebaliknya. Tak lama mereka bercerita ternyata airmata tak dapat ia tahan , perlahan air mata itu turun dengan derasnya layaknya hujan yang tiada henti sore itu kemudian lelaki itu memeluknya dengan berkata "Aku masih sayang"
tak dapat lagi ia mengelak, ia pun masih mempunyai rasa yang sama, terus dan terus air mata itu turun.
Sampai saatnya lelaki itu mengajak ia jalan sejenak , dan iapun tak menolak.
Sang fajar yang mulai terbenam, burung burung yang berkicau kembali ke sarangnya, awan cerah yang mulai berganti gelap. Senja sore yang ia nikmati saat itu dengan lelaki tampan itu. Namun, air matanya yang tak dapat terhapus , lelaki itu tetap menemaninya. Bergandengan tangan menikmati indahnya senja sore di taman.
"aku bingung, aku sangat sayang padanya" ucapnya dalam hati.
Lelaki itu terus mengenggam tangannya erat, suasana yang begitu mengharukan , suasana indah, di taman yang mungkin tak sepantasnya dan tak seharusnya ia menangis.
Lelaki itu berjalan kedepan untuk membelikanku sebotol minuman melepas dahaga. Ketika ia berjalan menghampiri lelaki itu ia bertemu dengan sahabatnya.
"vhi..."sapanya dan menepuk pundak dari arah belakangnya.
"hai" dan iapun langsung menyenderkan kepala dipundak sahabatnya dengan penuh air mata.
"kamu kenapa" tanya sahabatnya sambil mengusap airmatanya.
Tanpa ia gunakan basa basi untuk bercerita , ia katakan langsung kepada sahabatnya.
"aku bingung, dia masih sayang padaku dan akupun demikian masih sangat menyayanginya, tapi bgaimana ? Aku tak bisa dengannya. Jika aku terus memaksakan kedekatanku saat ini sampai nanti, aku takut akan melukai perasaannya seperti dulu, aku tak mau itu ! Takut !" jawabnya tersedu dengan tetesan air mata.
Berjalan perlahan menghampiri lelaki itu, ia hanya bisa menyenderkan kepala di pundak sahabatnya sampai akhirnya lelaki itu memberinya sebotol minuman dan kembali menggenggam tangannya. Rasa takutnya pun semakin mendalam, semakin sesak dengan ini.
"kamu kenapa ?" tanya lelaki itu padanya.
Ia tetap menggenggam tangan lelaki itu dengan erat dan kepala yg ia senderkan dipundak sahabatnya.
"aku tak apa , percayalah." meyakinkan lelaki itu dengan senyuman paksa.
"kamu yakin ? Kita pulang yah, wajahmu terlihat pucat, aku tak ingin kau sakit karnaku untuk sore ini." ucap lelaki itu khawatir.
Perhatian yang mendalam, membuat ketakutannya tak bisa hilang. "aku sayang padanya, bgaimana ini ?" ucapnya dlam hati. Terus dan terus menangis dan sahabatnya pun angkat bicara.
"dia itu hanya..." ia berhentikan bicara sahabatnya pda lelaki itu
"sst, aku tak apa, ayo kita pulang."
terus berjalan di taman indah , senja sore yang penuh ketakutan, bahagia yang bercampur adukan rasa. Lelaki itu hanya bisa menggenggam tanganya erat, sepertinya lelaki itu juga takut kehilangannya.
"sini, senderkan saja kepalamu dipundakku" tawar lelaki itu dgan manis.
"iah, vhi, ke dia saja :) sebentar lagi aku juga sampai rumah" tambah sahabatnya
ia pejamkan matanya dengan rasa lelah ia pun memindahkan kepalanya di pundak lelaki itu.
"makasih, dan maaf bajumu basah karna air mataku" tersenyum
"tak apa vhi, aku senang pundaku berguna untukmu sampai nanti yah dan vino tolong jaga vivi antarkan dia sampai rumah :) aku titip vivi yah." kata sahabatnya dengan nada pelan dan tersenyum melambaikan tangan.

Lelaki terus menggenggam tangannya erat dan tak sepatah kata ia lontarkan saat setelah sahabatnya berpamitan pulang. Ia dan lelaki itu terus menyusuri jalan, langkah demi langkah mengikuti matahari yang hampir terbenam total ;)

~SELESAI~

#yuhuy, selesai coment yah !#

Komentar